MESJID USANG RAUDHATUL JANNAH SENTAJO

MESJID USANG atau Mesjid Raudhatul jannah yang terletak di desa Koto sentajo kecamatan Sentajo raya kabupaten Kuantan singingi provinsi Riau merupakan mesjid bersejarah yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, mesjid ini dibangun dengan 17 (tujuh belas) tiang sebagai pondasi, dimana terdapat 1 (satu) tiang utama dengan 16 (enambelas) tiang penyangga, mesjid ini menjadi bukti bahwa, agama Islam sudah lama masuk ke wilayah tersebut diperkirakan  sejak 200 tahun atau dua abad yang lalu.



Foto : Mesjid Usang Raudhatul Jannah Koto Sentajo

Mesjid seluas ± 203 M2 terletak desa adat Koto sentajo, disekitarnya berdiri ± 27 (dua puluh tujuh) rumah adat kenegerian Sentajo, struktur bangunan mesjid berkaitan dengan erat dengan adat istiadat di wilayah tersebut, dimana 16 tiang melambangkan orang adat yang berjumlah sebanyak 16 (enam belas) orang, terdiri dari 4 (empat) Penghulu, 4 (empat) Menti, 4 (empat) Dubalang dan 4 (empat) Malin/kotik, jumlah kayu pondasi yang 16 (enam belas) dan ditambah 1 (satu) yang tiang lebih besar disebut dengan tiang mocu dimaknai sebagai simbol adat di Kenegerian Sentajo.




Foto : Interior Mesjid Usang

Arsitektur kolonial terlihat dari dinding bangunan yang terbuat dari bata berspasi kapur dengan ketebalan dinding sekitar 31 cm, selain itu juga terlihat dari bentuk lengkung (arch) pada jendela dan pintu, mesjid ini tidak menggunakan flapon, ruang utama mesjid ini mempergunakan tiang penyangga sebanyak 16 (enam belas) buah, terdiri dari 1 (satu) tiang utama (tiang mocu) Ø 60 cm, kemudian 4 (empat) buah tiang pendamping Ø 46 cm mengelilingi tiang mocu dan 12 (dua belas) tiang pendamping Ø 26 cm berada di bagian luar 4 (empat) tiang pendamping, tiang-tiang peyangga berbentuk oktagonal (segi delapan).

Jumlah jendela sebanyak sembilan buah, yang terdapat pada dinding ruangan utama sisi timur 2 buah, sisi barat 2 buah, utara 2 buah, dan selatan 3 buah. arsitektur tradisional terlihat pada atap berbentuk limasan tumpang tiga dan penggunaan tiang-tiang kayu di ruang utama mesjid, untuk penggambaran deskripsi bangunan mesjid dibagi dalam empat bagian pendeskripsian yaitu bagian ruang utama, mihrab, serambi, bangunan pendukung, dan bangunan penyerta.

Ruang utama mesjid Usang berdenah persegi panjang dengan ukuran 13,48 m x 13,40 m, lantai pada ruangan utama terbuat dari keramik putih berukuran 40 x 40 cm, dindingnya berupa dinding bata berlepa yang telah dilapisi oleh keramik warna hijau berukuran 20 cm x 25 cm, berbagai media yang menulis tentang mesjid ini berdiri sekitar tahun 1719 dan selesai 1804-an, bertindak sebagai kepala tukang saat itu Karojan dari suku Melayu.

Sumber lain yang tertulis di poran (tiang) mesjid Usang disebutkan atap mesjid tersebut dibawah dari Kolang, Segambut, (Malaysia) oleh baginda Raja Tihu bersama Pendekar batuah pertama, sedangkan kapal yang membawa atap mesjid tersebut adalah Pendekar Bonsu dan Madjirin sang pemilik kapal pertama di Sentajo pada tahun 1804, pada akhir tahun 1980-an bangkai kapal tersebut masih terlihat di sungai Barua koto.

Mesjid Usang yang terletak dipinggiran danau, tak jauh dari danau terdapat aliran Sungai kuantan, danau tersebut dulunya sumber kehidupan sebagai tempat mencari ikan masyarakat setempat, kemudian dibawah mesjid berdiri penghubung (Titian) menuju pulau perupuk (dulunya permukiman warga), seiring waktu nama berganti dengan kuladi menjadi tempat beladang atau bertani masyarakat, karena sering banjir permukiman berpindah ke tempat yang lebih tinggi.

Titian penghubung 2 (dua) wilayah tersebut dengan konstruksi kayu, dimana tingginya sekitar 4 s/d 5 m, panjang ± 200 m dan lebar 2,5 m, titian tersebut Masyarakat menyebutnya dengan nama “Titian Baruah Koto”, pulau perupuk sebagai permukiman warga dan titian Baruah koto sekarang hanya tinggal cerita dan aktivitas danau baruah koto pun tak sepadat dulu lagi, namun keindahaan alam masih menarik untuk dinikmati.



Foto : Sekitaran Lokasi Titian Baruah Koto

Danau Baruah Koto sangat melenggenda, dulu saat masuk bulan Ramadhan warga kenegerian Sentajo mengadakan acara marawang atau menangkap ikan, acara ini diikuti seluruh masyarakat atas perintah Pak Wali, Adat marawang di Kampar dikenal dengan sebutan Maawuo, mesjid Usang memang unik dan menarik, dalam catatan Buya HAMKA mesjid ini hanya dijelaskan sekilas, Tapi itu cukup mengambarkan bahwa keberadaan mesjid ini dicatat dalam sejarah.

Mesjid Usang punya arsitektur yang unik, artinya sejak dahulu masyarakat Sentajo sudah pandai bertukang, Ini bisa dilihat dari rumah godang yang kini masih berdiri kokoh dan dalam perjalanannya mesjid ini pernah ditinggalkan dalam kurun waktu yang lama, kenapa itu sampai terjadi? tak elok rasanya dituliskan di sini, namun pada tahun 13 April 1984 mesjid ini kembali setelah 30 tahun ditinggalkan pada masa Sawiruddin yang memimpin Kepala Desa di Koto sentajo. kini mesjid ini sudah ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya, rrtinya salah satu mesjid tertua di Kuantan Singingi ini dilindungi oleh pemerintah.

 

Share 04-02-2024

Sumber informasi : dr. H. Taswin ya’cub, Sp.S, Dr. Familus, M.Pd dan Agus Salim

Ditulis Oleh : Maswito Jamaluddin

Komentar

Postingan Populer